Showing posts with label Materi. Show all posts
Showing posts with label Materi. Show all posts

Krida Saka Bakti Husada


Salam Pramuka,

Sahabat pramuka... tahukah anda KRIDA dalam SAKA BAKTI HUSADA..?
Berapa jumlah KRIDA dalam SAKA BAKTI HUSADA ?
Apa saja KRIDA dalam SAKA BAKTI HUSADA ?

Berikut ini, kakak ulas sedikit ya :

Saka Bakti Husada meliputi 6 (enam) krida, yaitu :
   1. Krida Bina Lingkungan Sehat  >> Selengkapnya
   2. Krida Bina Keluarga Sehat  >> Selengkapnya
   3. Krida Penanggulangan Penyakit  >> Selengkapnya
   4. Krida Bina Gizi  >> Selengkapnya
   5. Krida Bina Obat.  >> Selengkapnya
   6. Krida Perilaku Hidup Bersih dan Sehat  >> Selengkapnya

P3K : Penanganan Perdarahan

Salam Pramuka,

PERDARAHAN

 
Pertolongan Pertama Pada Perdarahan
PengertianPerdarahan adalah keluarnya darah dari pembuluh darah karena trauma atau penyakit.

 Perdarahan dilihat dari sumbernya :
  1. Perd. P. Arteri  (nadi)
  2. Perd. P. Kapiler (rambut)
  3. Perd. P. Vena (balik)
Perdarahan dilihat dari jenisnya
1.    Perd. Terbuka (luar)  >>> terlihat jelas
2.    Perd. Tertutup (dalam)

Perhatian... !!!!!
a.    luka tusuk
b.    darah keluar lewat telinga/hidung
c.    muntah/batuk darah
d.    memar
e.    luka tembus dada/perut
f.     perut nyeri tekan, kaku/kejang
g.    kencing darah
h.    perdarahan dari kemaluan/anus
i.      patah tulang besar (paha, panggul)

Penanganan perdarahan luar : (kenakan APD)
1.    Tekan langsung
2.    Istirahatkan
3.    Elevasi
4.    Tekan nadi antara perdarahan dengan jantung

Penanganan perdarahan dalam :
1.    Baringkan dan istirahat
2.    Buka jalan nafas
3.    Periksa berkala
4.    Rawat syok
5.    Jangan beri makan/minum
6.    Beri O2 100% bila ada
7.    Rujuk ke RS

P3K : Penilaian

Salam Pramuka,

PENILAIAN (ASSESMENT)

Dalam upaya memberiakan pertolongan kepada orang lain (korban/penderita) penolong harus terlebih dahulu mengerti apa yang terjadi dan bagaimana kondisi penderita saat ditemukan. Dengan demikian pertolongan yang akan diberikan dapat sesuai dengan keadaan penderita. Untuk mencapai hal tersebut maka perlu adanya langkah yang disebut dengan Penilaian (Assesment).

Adapun langkah-langkah penilaian adalah sebagai berikut.

1.   PENILAIAN KEADAAN
2.   PENILAIAN DINI
3.   PEMERIKSAAN FISIK
4.   RIWAYAT PENDERITA
5.   PEMERIKSAAN BERKALA ATAU LANJUT
6.   PELAPORAN

1.  PENILAIAN KEADAAN

Penilaian keadaan dilakukan untuk menentukan adanya faktor pendukung atau penghambat dalam melakukan tindakan pertolongan nantinya. Dalam fase ini penolong terlebih dulu harus memastikan situasi aman untuk “penolong, orang sekitar/lingkungan dan korban” dengan jalan :
1. Bagaimana kondisi saat itu
Apa yang terjadi, mekanisme kejadian, berapa jumlah korban, amankah lingkungan, perencanaan pertolongan, sesuatu yang bisa dimanfaatkan (improfisasi)
2. Kemungkinan apa yang akan terjadi
Bahaya susulan apa yang akan terjadi dari kejadian tersebut
3. Bagaimana mengatasinya
Rencanakan dan lakukan langkah-langkah untuk mengamankan keadaan atau bahaya yang akan timbul (safety plan)

Saat dilokasi kejadian, penolong harus :
1.  Memastikan keselamatan diri, orang sekitar dan penderita (korban)
2.  Penolong memperkenalkan diri
3.  Menentukan keadaan umum dan mulai melakukan penilaian dini
4.  Mengenali dan mengatasi gangguan yang mengancam jiwa
5.  Stabilkan penderita dan teruskan pemantauan
6.  Minta bantuan


2. PENILAIAN DINI

Dalam langkah ini penolong harus mengenali dan mengatasi secara tepat, cepat dan sederhana keadaan yang mengancam jiwa (masalah yang berhubungan dengan sistem pernapasan dan sirkulasi).

Langkah-langkah penilaian dini :
1.  Kesan umum
Bedakan antara kasus medis dan kasus trauma :
>> Kasus trauma : kasus yang disebabkan oleh trauma (ruda paksa) dan biasanya mempunyai tanda-tanda yang jelas.
>> Kasus medis : kasus yang diderita seseorang tanpa didahului oleh ruda paksa. Pada kasus ini penolong harus mencari riwayat gangguannya.
Kesan umum ini dapat mulai dilakukan saat kita mendekati penderita, untuk memperoleh gambaran secara ringkas keadaan penderita, namun hal ini bukan merupakan kesimpulan akhir dari keadaan penderita.

2.  Respon (pemeriksaan respon)
Hal ini untuk mengetahui berat – ringannya gangguan dalam otak penderita. Untuk menetukan tingkatan respon seseorang berdasarkan rangasangan yang diberikan ada 4 tahapan :
>> A (Awas)                       : penderita sadar penuh dan mengenali lingkungan
>> S (Suara)          : penderita bereaksi hanya bila dipanggil atau mendengar suara
>> N (Nyeri)                        : penderita bereaksi hanya bila mendapat rangsang nyeri.
>> T (Tidak respon)           : penderita tidak respon terhadap rangsang apapun

3.  Airway (memastikan jalan napas terbuka dengan baik)
>> Bila penderita dengan respon baik
Perhatikan saat penderita bersuara atau menjawab pertanyaan, adakah gangguan dalam suara napasnya
>> Bila penderita tidak respon
Akan dipelajari dalam Bantuan Hidup Dasar (BHD) dan Resusitasi Jantung Paru (RJP)

4.  Breathing (menilai pernapasan)
Setelah jalan napas dipastikan terbuka dengan baik dan bersih dari sumbatan, maka tentukan ada tidaknya napas dengan cara LIHAT, DENGAR dan RASA-kan. Untuk menetukan ada tidaknya napas ini dilakukan dalam 3 – 5 detik. Bila tidak ada napas  maka lakukan tindakan resusitasi napas (dipelajari dalam BHD dan RJP)

5.  Circulation (menilai sirkulasi dan perdarahan hebat)
Pastikan adanya denyut nadi dan tidak ada perdarahan yang membahayakan nyawa, jangan terpaku pada cedera yang terlihat, perdarahan dalam akan lebih membahayakan.
Menilai sirkulasi (nadi) dapat dilakukan :

>>  Penderita sadar
Dewasa dan anak dapat dilakukan di nadi radialis (pergelangan tangan), untuk bayi lakukan di nadi bracialis (lengan atas bagian dalam)

>>Penderita tidak sadar
Dewasa dan anak lakukan di nadi karotis (leher), untuk bayi lakukan di nadi bracialis (lengan atas bagian dalam)
Untuk memastikan ada tidaknya denyut jantung (nadi) diperiksa selama 5 – 10 detik. Bila tidak ditemukan adanya denyut nadi maka dilakukan Resusitasi Jantung Paru (dipelajari di BHD dan RJP)

6.  Menghubungi batuan
Bila dirasa perlu segera minta bantuan untuk rujukan.



3. PEMERIKSAAN FISIK

1.  Kasus Trauma
Penolong harus menentukan penderita mengalami cedera signifiakan atau tidak. Penentuan signifiakn atau tidak tergantung dari mekanisme cederanya. Beberapa contoh cedera signifikan :
>> Terpental dari kendaraan
>> Adanya penumpang lain yang meninggal
>> Jatuh dari ketinggian lebih dari 5 m (kecuali bayi, jatuh dari 1 m sudah termasuk cedera signifikan)
>> Tidak respon
>> Luka tusuk di kepala, dada atau perut

Mekanisme cedera tidak signifikan
· Cari penyebab terjadinya cedera (mekanisme cedera)
· Wawancara penderita sambil menilai pernapasan dan perdarahan
· Temukan riwayat yang berhubungan dengan kejadian dan pemeriksaan sesuai dengan keluhan
· Nilai tanda-tanda vital
· Lakukan pemeriksaan fisik sesuai kebutuhan

Mekanisme cedera signifikan :
·     Nilai keadaan dan tentukan kemungkinan penyebab cedera
·     Wawancara saksi, nilai hal-hal yang mengancam nyawa, stabilkan tulang leher
·     Lakukan pemeriksaan fisik cepat, lakukan penanganan
·     Nilai tanda vital dan ulangi beberapa saat kemudian (catat bila terjadi perubahan)
·     Lakukan pemeriksaan fisik menyeluruh (bila memungkinkan)

2.  Kasus Medis
Pada kasus medis penderita dibagi berdasar ada tidaknya respon. Penderita tidak respon pemeriksaan fisik dilakukan cepat hanya untuk mengetahui bahwa tidak ada trauma.
Penderita respon :
·     Mulai dengan wawancara dan lanjutkan selama menilai dan menanganinya
·     Ajukan pertanyaan yang mengarah pada riwayat penyakitnya
·     Pemerikasaan fisik dilakukan sesuai keluhan
·     Nilai tanda fital
Penderita tidak respon :
·     Wawancarai saksi/keluarga (bila ada) untuk mencari riwayat penderita
·     Pastikan ABC baik
·     Periksa tanda khas suatu penyakit
·     Nilai tanda vital (catat)

Prinsip pemeriksaan fisik menyeluruh penderita :
a.  Pemeriksaan fisik merupakan pemeriksaan seluruh tubuh, dengan tujuan mencari berbagai tanda
b.  Pemeriksaan dilakukan secara sistematis dan berurutan dari ujung kepala sampai ujung kaki, namun bisa berubah sesuai dengan kondisi penderita


Pemeriksaan fisik ini melibatkan panca indra kita :
a.  Inspeksi (penglihatan)
b.  Palpasi (perabaan)
c.  Auskultasi (pendengaran)

Pada penderita cedera, harus dicari adanya :
1.    Perubahan bentuk    (P)
2.    Luka terbuka              (L)
3.    Nyeri tekan                 (N)
4.     Bengkak                      (B)

4. RIWAYAT PENDERITA

Wawancara sangat diperlukan untuk mengetahui kondisi penderita. Hal ini bisa dilakukan kepada penderita langsung (bila sadar) atau saksi/keluarga (bila penderita tidak sadar). Untuk memudahkan wawancara kita mengenal akronim :KOMPAK
·     K     : Keluhan utama (gejala dan tanda)
·     O     : Obat-obatan yang diminum
·     M     : Makanan/minuman yang terakhir
·     P     : Penyakit yang diderita
·     A     : Alergi yang dialami (dimiliki)
·     K     : Kejadian yang dialami

5. PEMERIKSAAN BERKALA

Setelah melakukan rangkaian pemeriksaan diatas bukan berarti tugas penolong selesai, namun harus dilakukan pemeriksaan ulang (lanjutan) sampai mendapatkan pertolongan medis. Pemeriksaan ini bisa juga mencari hal-hal yang terlewatkan.
Secara umum pemeriksaan berkala, harus dinilai kembali :
a.   Keadaan respon
b.   Nilai kembali ABC
c.   Nilai kembali keadaan kulit : suhu, kelembaban dan periksa ulang dari ujung kepala sampai ujung kaki
d.   Periksa secara seksama bila ada hal-hal yang belum diperiksa
e.   Nilai kembali penatalaksanaan
f.    Pertahankan komunikasi dengan penderita

6. PELAPORAN

Semua pemeriksaan dan tindakan pertolongan dilaporkan secara singkat dan jelas kepada penolong selanjutnya. Dalam laporan sebaiknya dicantumkan :
·       Umur dan jenis kelamin penderita
·       Keluhan utama
·       Tingkat respon
·       ABC
·       Pemeriksaan fisik yang penting
·       KOMPAK yang penting
·       Penanganan (penatalaksanaan)
·       Perkembangan lain yang penting

P3K : Keracunan

KERACUNAN

Pengertian :
Racun adalah suatu zat yang bila masuk dalam tubuh dalam jumlah tertentu dapat menyebabkan reaksi tubuh yang tidak diinginkan bahkan dapat menimbulkan kematian.

Beberapa contoh zat yang berupa racun : insektisida, bahan kimia seperti sianida (sering ditemukan pada singkong beracun), logam berat, racun binatang (ular, kalajengking dll.) .

Cara terjadinya keracunan pada manusia :
-        Sengaja bunuh diri
-        Keracunan tidak disengaja
-        Keracunan melalui mulut/alat pencernaan
-        Keracunan melalui pernapasan
-        Keracunan melalui kulit atau absorbsi (kontak)
-        Keracunan melalui suntikan atau gigitan

Gejala dan tanda keracunan secara umum :
Gejala umum :
a.    Riwayat yang berhubungan dengan proses keracunan
b.    Penurunan respon
c.     Gangguan pernapasan
d.    Nyeri kepala, pusing, gangguan penglihatan
e.    Mual, muntah
f.      Lemas, lumpuh, kesemutan
g.    Pucat atau sianosis
h.    Kejang-kejang
i.      Syok
j.      Gangguan irama jantung dan peredaran darah pada zat tertentu.

Gejala-gejala khas
Keracunan melalui mulut :
1.      Mual, muntah
2.      Nyeri perut
3.      Diare
4.      Napas/mulut berbau
5.      Suara parau, nyeri di saluran cerna (mulut dan kerongkongan).

Keracunan melalui pernapasan :
1.      Sesak napas
2.      Mungkin sainosis (kebiruan)
3.      Napas berbau

Keracunan melalui kulit :
Daerah kontak berwarna kemerahan, nyeri, melepuh dan meluas.

Keracunan melalui suntikan/gigitan :
Di daerah suntikan/gigitan :
1.      Luka
2.      Nyeri
3.      Kemerahan
4.      Perubahan warna (biasanya pada gigitan ular).

Penatalaksanaan keracunan secara umum :
1.      Pengamanan sekitar, terutama bila berhubungan dengan gigitan binatang.
2.      Pengamanan penderita dan penolong, terutama bila berada di daerah gas beracun.
3.      Keluarkan penderita dari daerah berbahaya bila memungkinkan
4.      Penilaian dini, bila perlu lakukan RJP.
5.     Bila racun masuk melalui jalur kontak, buka baju penderita dan bersihkan sisa bahan 
beracun bila ada, lalu bilaslah daerah yang terkena dengan air.
6.      Awasi jalan napas, terutama bila respon menurun atau penderita muntah.
7.     Beri oksigen bila ada sesuai dengan ketentuan, khususnya pada keracunan melalui 
udara.
8.     Bila ada petunjuk seperti pembungkus, sisa muntahan dan sebagainya sebaiknya 
diamankan untuk identifikasi.
9.      Penatalaksanaan syok bila terjadi
10.   Pantau tanda vital secara berkala
11.   Rujuk ke fasilitas kesehatan.

Beberapa perhatian khusus :
Pada keracunan melalui mulut/pencernaan :
a.       Untuk menurunkan kadar racun yang tertelan lakukan pengenceran dengan memberi minum susu/air sebanyak-banyaknya atau anti racun (norit, putih telur).
b.       Jangan memberikan susu pada keracunan yang diketahui mengandung fosfat karena dapat bereaksi.
c.        Mengeluarkan racun dari lambung dengan rangsangan-rangsangan muntah, hanya efektif bila dilakukan  dalam  4 jam pertama setelah keracunan. Hati-hati karena rangsangan muntah tidak boleh (kontra-indikasi) dilakukan pada :
1.    Menelan asam/basa kuat
2.    Menelan produk minyak bumi (minyak tanah, bensin dsb.)
3.    Korban kejang atau bakat kejang
4.    Korban tidak sadar atau ada gangguan kesadaran.

Pada keracunan melalui kontak :
a.       Buka baju penderita yang terkena
b.       Siramlah bagian yang terkena racun dengan air sekurang-kurangnya selama 20 menit
c.       Hati-hati bila racun berupa serbuk, jangan disiram dahulu tetapi sikat dahulu sampai debu racunnya bersih baru siram dengan air
d.       Jangan menyiram daerah yang terkena racun yang bereaksi dengan air
e.     Pada waktu menyiram atau menyikat posisikan diri penolong sedemikian rupa sehingga terhindar dari kemungkinan percikan racun tersebut

Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K)

Salam Pramuka,

Sebelum membahas tindakan apa saja dalam Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (PPPK), kakak sampaikan beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam P3K :

DASAR  PERTOLONGAN  PERTAMA
  
Pertolongan Pertama adalah pemberian pertolongan segera kepada penderita sakit atau cedera/kecelakaan yang memerlukan penanganan medis dasar. Sedang pengertian medis dasar adalah tindakan perawatan berdasarkan ilmu kedokteran yang dapat dimiliki oleh awam atau awam yang terlatih secara khusus. Dengan batasan sesuai dengan sertifikat yang dimilik oleh Pelaku Pertolongan Pertama.

Pelaku Pertolongan Pertama
Adalah penolong yang pertama kali tiba di tempat kejadian, yang memiliki kemampuan dan terlatih dalam penanganan medis dasar.

Tujuan Pertolongan Pertama
  1. Menyelamatkan jiwa penderita
  2. Mencegah cacat
  3. Memberikan rasa nyaman dan menunjang proses penyembuhan
 Kewajiban Pelaku Pertolongan Pertama
  1. menjaga keselamatan diri, anggota tim, penderita dan orang sekitarnya.
  2. Dapat menjangkau penderita. Dalam kasus kecelakaan atau musibah kemungkinan pelaku harus memindahkan penderita lain untuk dapat menjangkau penderita yang lebih parah.
  3. Dapat mengenali dan mengatasi masalah yang mengancam nyawa.
  4. Meminta bantuan atau rujukan
  5. Memberikan pertolongan dengan cepat dan tepat berdasrkan keadaan korban.
  6. Membantu pelaku pertolongan pertama lainnya.
  7. Ikut menjaga kerahasiaan medis penderita
  8. Melakukan komunikasi dengan petugas lain yang terlibat.
  9. Mempersiapkan penderita untuk ditansportasikan.
 Kualifikasi pelaku pertolongan Pertama
  1. Jujur dan bertanggungjawab
  2. Berlaku profesional
  3. Kematangan emosi
  4. Kemampuan bersosialisasi
  5. Kemampuan nyata terukur sesuai sertifikasi
  6. Kondisi fisik baik
  7. Mempunyai rasa bangga.
 Peralatan dasar Pelaku Pertolongan Pertama
Peralatan dasar meliputi peralatan perlindungan diri (APD) dan peralatan minimal untuk melakukan tugas.

Alat Perlindungan Diri (APD)
APD berfungsi untuk menghindari kemungkinan darah dan semua cairan tubuh sebagai media penularan penyakit menular ke penolong termasuk juga untuk mencegah penolong

APD meliputi antara lain :
·         Sraung tanagana lateks
·         Kacamata pelindung
·         Baju pelindung
·         Masker penolong
·         Masker resusitasi
·         Helm
·         Alat perlindungan diri minimal bagi seorang Pelaku Pertolongan Pertama adalah sarung tangan dan masker RJP.

Beberapa Tindakan umum untuk menjaga diri adalah :
1.       Mencuci tangan
2.       Lakukan sebelum dan sesudah melakukan pertolongan
3.       Membersihkan alat :
4.       Mencuci dengan air ; hanya menghilangkan bekas atau noda saja
5.       Desinfeksi (memakai bahan pembunuh kuman misalnya pemutih)
Sterilisasi (proses khusus untuk menjadi bebas kuman)