Pendaftaran Online Calon Anggota SBH Baturetno Tahun 2014

PENGUMUMAN 
PENERIMAAN CALON ANGGOTA SAKA BAKTI HUSADA KWARAN 12-XI BATURETNO TAHUN 2014


Persyaratan Umum :
  1. Pramuka Penegak Bantara, Penegak Laksana dan Pramuka Pandega dari gugus Depan yang mempunyai minat dan bakat di bidang kesehatan
  2. Berusia antara 16 s/d 25 tahun

Persyaratan Khusus :
  1. Mendapat ijin dari orang tua dan Pembina Gugus Depan
  2. Sehat Jasmani dan Rohani ( Pemeriksaan dilaksanakan setelah pendaftaran)
  3. Menyatakan keinginan untuk menjadi anggota Saka bakti Husada secara sukarela
  4. Berminat dan bersedia aktif dalam segala kegiatan Saka Bakti Husada
  5. Bersedia dengan sukarela mendarmabaktikan dirinya kepada masyarakat dan sanggup mentaati segala ketentuan yang berlaku bagi anggota Saka Bakti Husada
  6. Tidak sedang menjadi anggota Satuan Karya Pramuka yang lain.
Waktu Pendaftaran :
Hari       : Senin s/d Sabtu
Tanggal :  Juli s/d Agustus 2014

Tempat Pendaftaran :
Online
Melalui blog ini >> Daftar Sekarang

Offline
  1. Puskesmas Baturetno 1 Jl. Raya Solo-Pacitan Kec. Baturetno (Kak BASUKI - 08122654525)
  2. Anggota Saka Bakti Husada di Sekolah :
Contac Person :
  • Ganang Adi W (0857 2552 4729)
  • Setyo Tri U (0857 0203 5095)
  • Yuliawati ( 0877 3642 5877)

Krida Saka Bakti Husada


Salam Pramuka,

Sahabat pramuka... tahukah anda KRIDA dalam SAKA BAKTI HUSADA..?
Berapa jumlah KRIDA dalam SAKA BAKTI HUSADA ?
Apa saja KRIDA dalam SAKA BAKTI HUSADA ?

Berikut ini, kakak ulas sedikit ya :

Saka Bakti Husada meliputi 6 (enam) krida, yaitu :
   1. Krida Bina Lingkungan Sehat  >> Selengkapnya
   2. Krida Bina Keluarga Sehat  >> Selengkapnya
   3. Krida Penanggulangan Penyakit  >> Selengkapnya
   4. Krida Bina Gizi  >> Selengkapnya
   5. Krida Bina Obat.  >> Selengkapnya
   6. Krida Perilaku Hidup Bersih dan Sehat  >> Selengkapnya

Pelantikan Saka Bakti Husada Baturetno : dr. SUSTIYADI, M.Kes

Baturetno, 25 Mei 2013 : Tepat pukul 22.00 WIB, Kepala Puskesmas Baturetno 1 (dr. SUSTIYADI, M.Kes) selaku Ketua Majelis Pembimbing Satuan Karya (KAMABISAKA) Pramuka Bakti Husada  Kwaran Baturetno, melantik anggota baru angkatan 2013.

Laporan pemimpin upacara kepada Pembina Upacara

Meski hujan rintik-rintik, dr. SUSTIYADI, M.Kes sudah hadir di lokasi 30 menit sebelum acara dimulai. Sebanyak 25 calon anggota dilantik menjadi anggota SAKA BAKTI HUSADA Kwaran 12-XI Angkatan 2013.

Pembacaan Tekt pelantikan oleh Kamabisaka
Dalam amanatnya, beliau menyampaikan ucapan selamat kepada anggota baru. Disamping itu, beliau juga menyampaikan, dengan dilantiknya calon anggota menjadi anggota, maka beban dan tanggung jawabnya juga semakin besar. Dengan tetap memegang teguh Tri Satya dan Dasa Dharma Pramuka, anggota Saka Bakti Husada akan mengabdikan dirinya dalam meningkatkan derajat kesehatan khususnya di Baturetno dan sekitarnya.

Pemasangan Ambalan secara simbolis oleh Kamabisaka
Amanat Pembina Upacara

Pasukan dibubarkan

Bersama Tim SAR

SAR Baturetno
Bukan panjat pinang
SAR Praci unjuk gigi.. hihihi

Horeee.... aq di angkaaaat..
Lunch ala SAR... seadanya...

Ituuu........
Kenalan... sapa tau jodo.....

Apa..an tuuuuu...
Pak Bossss
Ana FaMit dulu yaaa...
Maaf bos.... cuman bisa ngasih  salaman....



Jepretan Pelantikan Saka Bakti Husada Baturetno 2013

Siap...siap... mo.. Hiiii... Tacuuut..
Add caption
Bo2k... ber-Dora ria
Sok.. mEsrA...
CARIBELL... in action
Lunch..... dg bAtHox... xixii
Kak alumnus... dah makmur
Galak cihh...
cuman og minta cuap
Tim SAR... pAmiTan....
Huaaaaaaa.........
Bukan KDRT.....
hanya dipaksa makAn

P3K : Penanganan Perdarahan

Salam Pramuka,

PERDARAHAN

 
Pertolongan Pertama Pada Perdarahan
PengertianPerdarahan adalah keluarnya darah dari pembuluh darah karena trauma atau penyakit.

 Perdarahan dilihat dari sumbernya :
  1. Perd. P. Arteri  (nadi)
  2. Perd. P. Kapiler (rambut)
  3. Perd. P. Vena (balik)
Perdarahan dilihat dari jenisnya
1.    Perd. Terbuka (luar)  >>> terlihat jelas
2.    Perd. Tertutup (dalam)

Perhatian... !!!!!
a.    luka tusuk
b.    darah keluar lewat telinga/hidung
c.    muntah/batuk darah
d.    memar
e.    luka tembus dada/perut
f.     perut nyeri tekan, kaku/kejang
g.    kencing darah
h.    perdarahan dari kemaluan/anus
i.      patah tulang besar (paha, panggul)

Penanganan perdarahan luar : (kenakan APD)
1.    Tekan langsung
2.    Istirahatkan
3.    Elevasi
4.    Tekan nadi antara perdarahan dengan jantung

Penanganan perdarahan dalam :
1.    Baringkan dan istirahat
2.    Buka jalan nafas
3.    Periksa berkala
4.    Rawat syok
5.    Jangan beri makan/minum
6.    Beri O2 100% bila ada
7.    Rujuk ke RS

P3K : Penilaian

Salam Pramuka,

PENILAIAN (ASSESMENT)

Dalam upaya memberiakan pertolongan kepada orang lain (korban/penderita) penolong harus terlebih dahulu mengerti apa yang terjadi dan bagaimana kondisi penderita saat ditemukan. Dengan demikian pertolongan yang akan diberikan dapat sesuai dengan keadaan penderita. Untuk mencapai hal tersebut maka perlu adanya langkah yang disebut dengan Penilaian (Assesment).

Adapun langkah-langkah penilaian adalah sebagai berikut.

1.   PENILAIAN KEADAAN
2.   PENILAIAN DINI
3.   PEMERIKSAAN FISIK
4.   RIWAYAT PENDERITA
5.   PEMERIKSAAN BERKALA ATAU LANJUT
6.   PELAPORAN

1.  PENILAIAN KEADAAN

Penilaian keadaan dilakukan untuk menentukan adanya faktor pendukung atau penghambat dalam melakukan tindakan pertolongan nantinya. Dalam fase ini penolong terlebih dulu harus memastikan situasi aman untuk “penolong, orang sekitar/lingkungan dan korban” dengan jalan :
1. Bagaimana kondisi saat itu
Apa yang terjadi, mekanisme kejadian, berapa jumlah korban, amankah lingkungan, perencanaan pertolongan, sesuatu yang bisa dimanfaatkan (improfisasi)
2. Kemungkinan apa yang akan terjadi
Bahaya susulan apa yang akan terjadi dari kejadian tersebut
3. Bagaimana mengatasinya
Rencanakan dan lakukan langkah-langkah untuk mengamankan keadaan atau bahaya yang akan timbul (safety plan)

Saat dilokasi kejadian, penolong harus :
1.  Memastikan keselamatan diri, orang sekitar dan penderita (korban)
2.  Penolong memperkenalkan diri
3.  Menentukan keadaan umum dan mulai melakukan penilaian dini
4.  Mengenali dan mengatasi gangguan yang mengancam jiwa
5.  Stabilkan penderita dan teruskan pemantauan
6.  Minta bantuan


2. PENILAIAN DINI

Dalam langkah ini penolong harus mengenali dan mengatasi secara tepat, cepat dan sederhana keadaan yang mengancam jiwa (masalah yang berhubungan dengan sistem pernapasan dan sirkulasi).

Langkah-langkah penilaian dini :
1.  Kesan umum
Bedakan antara kasus medis dan kasus trauma :
>> Kasus trauma : kasus yang disebabkan oleh trauma (ruda paksa) dan biasanya mempunyai tanda-tanda yang jelas.
>> Kasus medis : kasus yang diderita seseorang tanpa didahului oleh ruda paksa. Pada kasus ini penolong harus mencari riwayat gangguannya.
Kesan umum ini dapat mulai dilakukan saat kita mendekati penderita, untuk memperoleh gambaran secara ringkas keadaan penderita, namun hal ini bukan merupakan kesimpulan akhir dari keadaan penderita.

2.  Respon (pemeriksaan respon)
Hal ini untuk mengetahui berat – ringannya gangguan dalam otak penderita. Untuk menetukan tingkatan respon seseorang berdasarkan rangasangan yang diberikan ada 4 tahapan :
>> A (Awas)                       : penderita sadar penuh dan mengenali lingkungan
>> S (Suara)          : penderita bereaksi hanya bila dipanggil atau mendengar suara
>> N (Nyeri)                        : penderita bereaksi hanya bila mendapat rangsang nyeri.
>> T (Tidak respon)           : penderita tidak respon terhadap rangsang apapun

3.  Airway (memastikan jalan napas terbuka dengan baik)
>> Bila penderita dengan respon baik
Perhatikan saat penderita bersuara atau menjawab pertanyaan, adakah gangguan dalam suara napasnya
>> Bila penderita tidak respon
Akan dipelajari dalam Bantuan Hidup Dasar (BHD) dan Resusitasi Jantung Paru (RJP)

4.  Breathing (menilai pernapasan)
Setelah jalan napas dipastikan terbuka dengan baik dan bersih dari sumbatan, maka tentukan ada tidaknya napas dengan cara LIHAT, DENGAR dan RASA-kan. Untuk menetukan ada tidaknya napas ini dilakukan dalam 3 – 5 detik. Bila tidak ada napas  maka lakukan tindakan resusitasi napas (dipelajari dalam BHD dan RJP)

5.  Circulation (menilai sirkulasi dan perdarahan hebat)
Pastikan adanya denyut nadi dan tidak ada perdarahan yang membahayakan nyawa, jangan terpaku pada cedera yang terlihat, perdarahan dalam akan lebih membahayakan.
Menilai sirkulasi (nadi) dapat dilakukan :

>>  Penderita sadar
Dewasa dan anak dapat dilakukan di nadi radialis (pergelangan tangan), untuk bayi lakukan di nadi bracialis (lengan atas bagian dalam)

>>Penderita tidak sadar
Dewasa dan anak lakukan di nadi karotis (leher), untuk bayi lakukan di nadi bracialis (lengan atas bagian dalam)
Untuk memastikan ada tidaknya denyut jantung (nadi) diperiksa selama 5 – 10 detik. Bila tidak ditemukan adanya denyut nadi maka dilakukan Resusitasi Jantung Paru (dipelajari di BHD dan RJP)

6.  Menghubungi batuan
Bila dirasa perlu segera minta bantuan untuk rujukan.



3. PEMERIKSAAN FISIK

1.  Kasus Trauma
Penolong harus menentukan penderita mengalami cedera signifiakan atau tidak. Penentuan signifiakn atau tidak tergantung dari mekanisme cederanya. Beberapa contoh cedera signifikan :
>> Terpental dari kendaraan
>> Adanya penumpang lain yang meninggal
>> Jatuh dari ketinggian lebih dari 5 m (kecuali bayi, jatuh dari 1 m sudah termasuk cedera signifikan)
>> Tidak respon
>> Luka tusuk di kepala, dada atau perut

Mekanisme cedera tidak signifikan
· Cari penyebab terjadinya cedera (mekanisme cedera)
· Wawancara penderita sambil menilai pernapasan dan perdarahan
· Temukan riwayat yang berhubungan dengan kejadian dan pemeriksaan sesuai dengan keluhan
· Nilai tanda-tanda vital
· Lakukan pemeriksaan fisik sesuai kebutuhan

Mekanisme cedera signifikan :
·     Nilai keadaan dan tentukan kemungkinan penyebab cedera
·     Wawancara saksi, nilai hal-hal yang mengancam nyawa, stabilkan tulang leher
·     Lakukan pemeriksaan fisik cepat, lakukan penanganan
·     Nilai tanda vital dan ulangi beberapa saat kemudian (catat bila terjadi perubahan)
·     Lakukan pemeriksaan fisik menyeluruh (bila memungkinkan)

2.  Kasus Medis
Pada kasus medis penderita dibagi berdasar ada tidaknya respon. Penderita tidak respon pemeriksaan fisik dilakukan cepat hanya untuk mengetahui bahwa tidak ada trauma.
Penderita respon :
·     Mulai dengan wawancara dan lanjutkan selama menilai dan menanganinya
·     Ajukan pertanyaan yang mengarah pada riwayat penyakitnya
·     Pemerikasaan fisik dilakukan sesuai keluhan
·     Nilai tanda fital
Penderita tidak respon :
·     Wawancarai saksi/keluarga (bila ada) untuk mencari riwayat penderita
·     Pastikan ABC baik
·     Periksa tanda khas suatu penyakit
·     Nilai tanda vital (catat)

Prinsip pemeriksaan fisik menyeluruh penderita :
a.  Pemeriksaan fisik merupakan pemeriksaan seluruh tubuh, dengan tujuan mencari berbagai tanda
b.  Pemeriksaan dilakukan secara sistematis dan berurutan dari ujung kepala sampai ujung kaki, namun bisa berubah sesuai dengan kondisi penderita


Pemeriksaan fisik ini melibatkan panca indra kita :
a.  Inspeksi (penglihatan)
b.  Palpasi (perabaan)
c.  Auskultasi (pendengaran)

Pada penderita cedera, harus dicari adanya :
1.    Perubahan bentuk    (P)
2.    Luka terbuka              (L)
3.    Nyeri tekan                 (N)
4.     Bengkak                      (B)

4. RIWAYAT PENDERITA

Wawancara sangat diperlukan untuk mengetahui kondisi penderita. Hal ini bisa dilakukan kepada penderita langsung (bila sadar) atau saksi/keluarga (bila penderita tidak sadar). Untuk memudahkan wawancara kita mengenal akronim :KOMPAK
·     K     : Keluhan utama (gejala dan tanda)
·     O     : Obat-obatan yang diminum
·     M     : Makanan/minuman yang terakhir
·     P     : Penyakit yang diderita
·     A     : Alergi yang dialami (dimiliki)
·     K     : Kejadian yang dialami

5. PEMERIKSAAN BERKALA

Setelah melakukan rangkaian pemeriksaan diatas bukan berarti tugas penolong selesai, namun harus dilakukan pemeriksaan ulang (lanjutan) sampai mendapatkan pertolongan medis. Pemeriksaan ini bisa juga mencari hal-hal yang terlewatkan.
Secara umum pemeriksaan berkala, harus dinilai kembali :
a.   Keadaan respon
b.   Nilai kembali ABC
c.   Nilai kembali keadaan kulit : suhu, kelembaban dan periksa ulang dari ujung kepala sampai ujung kaki
d.   Periksa secara seksama bila ada hal-hal yang belum diperiksa
e.   Nilai kembali penatalaksanaan
f.    Pertahankan komunikasi dengan penderita

6. PELAPORAN

Semua pemeriksaan dan tindakan pertolongan dilaporkan secara singkat dan jelas kepada penolong selanjutnya. Dalam laporan sebaiknya dicantumkan :
·       Umur dan jenis kelamin penderita
·       Keluhan utama
·       Tingkat respon
·       ABC
·       Pemeriksaan fisik yang penting
·       KOMPAK yang penting
·       Penanganan (penatalaksanaan)
·       Perkembangan lain yang penting

P3K : Keracunan

KERACUNAN

Pengertian :
Racun adalah suatu zat yang bila masuk dalam tubuh dalam jumlah tertentu dapat menyebabkan reaksi tubuh yang tidak diinginkan bahkan dapat menimbulkan kematian.

Beberapa contoh zat yang berupa racun : insektisida, bahan kimia seperti sianida (sering ditemukan pada singkong beracun), logam berat, racun binatang (ular, kalajengking dll.) .

Cara terjadinya keracunan pada manusia :
-        Sengaja bunuh diri
-        Keracunan tidak disengaja
-        Keracunan melalui mulut/alat pencernaan
-        Keracunan melalui pernapasan
-        Keracunan melalui kulit atau absorbsi (kontak)
-        Keracunan melalui suntikan atau gigitan

Gejala dan tanda keracunan secara umum :
Gejala umum :
a.    Riwayat yang berhubungan dengan proses keracunan
b.    Penurunan respon
c.     Gangguan pernapasan
d.    Nyeri kepala, pusing, gangguan penglihatan
e.    Mual, muntah
f.      Lemas, lumpuh, kesemutan
g.    Pucat atau sianosis
h.    Kejang-kejang
i.      Syok
j.      Gangguan irama jantung dan peredaran darah pada zat tertentu.

Gejala-gejala khas
Keracunan melalui mulut :
1.      Mual, muntah
2.      Nyeri perut
3.      Diare
4.      Napas/mulut berbau
5.      Suara parau, nyeri di saluran cerna (mulut dan kerongkongan).

Keracunan melalui pernapasan :
1.      Sesak napas
2.      Mungkin sainosis (kebiruan)
3.      Napas berbau

Keracunan melalui kulit :
Daerah kontak berwarna kemerahan, nyeri, melepuh dan meluas.

Keracunan melalui suntikan/gigitan :
Di daerah suntikan/gigitan :
1.      Luka
2.      Nyeri
3.      Kemerahan
4.      Perubahan warna (biasanya pada gigitan ular).

Penatalaksanaan keracunan secara umum :
1.      Pengamanan sekitar, terutama bila berhubungan dengan gigitan binatang.
2.      Pengamanan penderita dan penolong, terutama bila berada di daerah gas beracun.
3.      Keluarkan penderita dari daerah berbahaya bila memungkinkan
4.      Penilaian dini, bila perlu lakukan RJP.
5.     Bila racun masuk melalui jalur kontak, buka baju penderita dan bersihkan sisa bahan 
beracun bila ada, lalu bilaslah daerah yang terkena dengan air.
6.      Awasi jalan napas, terutama bila respon menurun atau penderita muntah.
7.     Beri oksigen bila ada sesuai dengan ketentuan, khususnya pada keracunan melalui 
udara.
8.     Bila ada petunjuk seperti pembungkus, sisa muntahan dan sebagainya sebaiknya 
diamankan untuk identifikasi.
9.      Penatalaksanaan syok bila terjadi
10.   Pantau tanda vital secara berkala
11.   Rujuk ke fasilitas kesehatan.

Beberapa perhatian khusus :
Pada keracunan melalui mulut/pencernaan :
a.       Untuk menurunkan kadar racun yang tertelan lakukan pengenceran dengan memberi minum susu/air sebanyak-banyaknya atau anti racun (norit, putih telur).
b.       Jangan memberikan susu pada keracunan yang diketahui mengandung fosfat karena dapat bereaksi.
c.        Mengeluarkan racun dari lambung dengan rangsangan-rangsangan muntah, hanya efektif bila dilakukan  dalam  4 jam pertama setelah keracunan. Hati-hati karena rangsangan muntah tidak boleh (kontra-indikasi) dilakukan pada :
1.    Menelan asam/basa kuat
2.    Menelan produk minyak bumi (minyak tanah, bensin dsb.)
3.    Korban kejang atau bakat kejang
4.    Korban tidak sadar atau ada gangguan kesadaran.

Pada keracunan melalui kontak :
a.       Buka baju penderita yang terkena
b.       Siramlah bagian yang terkena racun dengan air sekurang-kurangnya selama 20 menit
c.       Hati-hati bila racun berupa serbuk, jangan disiram dahulu tetapi sikat dahulu sampai debu racunnya bersih baru siram dengan air
d.       Jangan menyiram daerah yang terkena racun yang bereaksi dengan air
e.     Pada waktu menyiram atau menyikat posisikan diri penolong sedemikian rupa sehingga terhindar dari kemungkinan percikan racun tersebut